Buku Retail Rules > 10.4. Munculnya Konsumen Tidak Sabar


Bersamaan dengan itu, konsumen semakin tidak sabar. Waktu untuk memberikan perhatian semakin pendek dan keinginan untuk menoleransi peritel yang tidak perhatian semakin pudar.
Peningkatan industri titipan kilat di banyak negara termasuk Indonesia merupakan akibat dari orang-orang yang tidak sabar ini. Federal Express merupakan yang pertama memberikan janji “akan tiba di sana ketika harusnya sudah di sana"

Tuntutan akan kecepatan dulu hanya terbatas pada industri penghantaran paket barang. Sekarang harapan tersebut juga telah dituntut untuk hampir segalanya. Penghantaran barang elektronik atau furnitur yang baru dibeli dari peritel, dituntut untuk bisa tiba esok. Garis kinerja itu langsung meluas ke lebih dari sekadar

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 10.3. Teknologi Komputer




Di masa depan, budaya akan ditentukan oleh teknologi. Telepon seluler, modem, laptop, Internet, atau konferensi video adalah simbol status dari anak muda. Teknologi-koneksi inilah yang merekatkan mereka. Ketika alat ini menjadi semakin murah dan powerful, maka jumlah populasi, kekuatan, dan pengaruh dari generasi ini akan semakin bertambah.
Bersamaan dengan kekuatan teknologi yang semakin tumbuh, pengetahuan, kekayaan, dan pengaruh dari masyarakat akan berpindah kepada generasi yang mampu menggunakan teknologi secara paling efektif. Hal ini akan menjungkirbalikkan masyarakat dan organisasi tradisional. Teknologi juga mempercepat fase perubahan, mengurangi waktu bagi masyarakat dan organisasi tradisional untuk beradaptasi terhadap perubahan ini.
Semua produk akan dapat dipindai denga telpfon, dibandingkan harga dan fiturnya, Informasi prosduk bisa ditelusuri melalui e-cataloge sehingga dalam sekejap konsumen dapat membuat keputusan pembalian. Inilah yang disebut sebagai shopping 1.0
Kini kita tengan memasukki era shopping 2.0, yakni ketika e-commerce beralih menjadi we-commerce. Para wanita saat ini sudah bisa masuk ke dalam fitting room membawa handphone. mereka mencoba baju pertama ditubuh mereka dan mengambil gambar. Pakaian kedua dan ketiga juga dicoba dan diambil gambarnya, kemudian langsung dikirim ke teman-teman terpercaya dijejaring sosial untuk dimintai pendapatnya, sehingga keputusan membeli konsumen bagaikan sebuah kerja sama tim layaknya tim olahraga.

Dengan demikian peer opinion menjadi powerful bagi konsumen. Para peritel dan manufaktur harus memmaknai hal ini dan membangun oponi didalam komunitas dan membuat percakapan (conversation), bukannya kampanye. Kampanye mulai ditinggalkan oleh konsumen.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 


Kutipan dari Peter Sealey, Director of Global Marketing for Coca-Cola, ini juga menarik untuk kita simak: "Akan ada anak muda global. Ini anak-anak yang sama yang Anda lihat di Tokyo, London, Los Angeles, dan Jakarta."
Di tengah-tengah permintaan instant gratification, ada ledakan pertumbuhan jumlah anak muda, sebuah kelompok yang secara biologis tidak kenal sabar. Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Di Amerika Serikat jumlah anak muda akan tumbuh secara biasa, tetapi di Eropa dan Jepang pertumbuhan tidak akan terjadi. Di Meksiko, 50 persen populasinya berada di bawah umur 20 tahun, di Gurun Sahara 60 persen populasinya di bawah 20 tahun.
Anak muda global kini adalah generasi pertama yang terhubung secara global. Budayanya tetap berbeda, misalnya antara Indonesia dan Korea, tetapi anak muda Indonesia dan anak muda Korea lebih mirip satu sama lain dibanding orang tua mereka. Saat ini semua anak muda sama-sama memiliki iPod, rubber wristband, bodyspray dan masuk dalam tagasama Facebook dan Twitter.
Generasi Baby Boomer memiliki televisi di zamannya, Generasi X memiliki MTV dengan musik dan fashion-nya yang membentuk budaya global. Generasi selanjutnya memiliki Internet dan komunitas interaktif. Dengan teknologi penghubung yang semakin canggih, kita akan semakin menghela napas atas kecepatan perubahan. Namun di era mendatang, tren yang akan terjadi bukan hanya seputar teknologi, melainkan juga meledaknya culture (budaya) atau subculture (budaya kecil). Pada dekade ini, kelak akan muncul Generasi “C”, yaitu generasi Connected, Create, Community, Customize, Co-creation, Curious, Control C.


Generasi ini terbentuk oleh mindset yaitu kreativitas di arena digital. Mereka yang berada di generasi ini adalah anak muda berusia antara 10 hingga 35 tahun. Generasi ini memiliki ciri khas tersendiri. Untuk lelaki, cirinya adalah seperti yang dijelaskan pada tabel:
Anda dapat mengidentifikasi Generasi C dari isi kamarnya. Kamarnya berisi berbagai peralatan digital, seperti TV digital, komputer PC, Apple, ipod, instrumen musik, iPhone dan lain-lain. Dunia mereka berada pada transaksi perhatian yang terus-menerus (continuous partial attention). Mereka tidak pernah lelah dan jemu mengecek gadget mereka untuk mendapat cerita baru atau komentar baru. Jadi kita akan memasuki ekonomi "perhatian" (Attention Economy).
Mereka menangkap cerita dan berbagi hidup dengan komunitas-pada prinsipnya mereka adalah digital story teller. Konsekuensinya, dalam pemasaran, storytelling akan semakin penting daripada produk itu sendiri. Mereka menciptakan iklan versi mereka sendiri dan mengabaikan versi perusahaan, sehingga kini perusahaan memberdayakan mereka dalam membuat cerita akhiriklannya (ending story). Perusahaan harus memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan cocreation, sehingga mereka merasakan kepemilikan (ownership). Generasi C sangat menghargai kreativitas dan punya hasrat yang sangat tinggi untuk mendapatkan keahlian baru. Jadi mereka sangat memuja merek yang memberi mereka jalan untuk mencipta, seperti Apple.

Bagaimana cara engage dengan Generasi C:


---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 10.1. Kepuasan Instan Tidak Cukup Cepat




Mark Twain pernah berkata: "Suatu kebohongan sudah dalam setengah perjalanan keliling dunia sebelum kebenaran memakai sepatunya". Kebudayaan "instan atau segera" adalah karakteristik yang sangat fenomenal saat ini. Apa yang ada hari ini, sudah hilang besok. Tren yang terjadi di New York atau Tokyo sudah keliling setengah dunia sebelum Anda selesai memakai sepatu Anda, dan hilang keesokan harinya. Kecepatan ini telah memperpendek umur produk dan format ritel. Walkman Sony, Video Betamax, kaset musik, kamera film, dan alat penyeranta sudah menjadi sejarah, walaupun kita masih memiliki dan menyimpannya di perpustakaan pribadi atau gudang.
Toko sewa cakram laser, toko diskon, toko gudang rabat, toko buku pelajaran sekolah, toko jahit pakaian, juga sudah menghilang di masa kini, digantikan oleh DVD dan blue ray movie disc, hypermarket dan minimarket, dan butikfast fashion. Warung Internet (warnet) adalah format yang akan menghilang dengan masuknya WiFi dan Wimax. Inovasi yang cepat untuk menjawab keinginan konsumen, kini dibarengi dengan kemampuan mencetak ide untuk membuat bisnis agar berumur panjang dan bahkan menjadi tantangan yang semakin kompetitif.

Perubahan kecepatan ini juga “memperkecil generasi manusia" sambil “memperbesar perbedaannya”. Setiap penemuan, dari teks ke radio, dari televisi ke komputer, dari Internet ke gambaran virtual yang mendekati kenyataan (virtual reality), menggebrak ke generasi muda jauh lebih cepat dan memisahkan mereka dari generasi sebelumnya. Perbedaan antargenerasi semakin besar ketika teknologi penghubung terus berubah.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 9.3. Cara Baru dalam Engagement




Nielsen memperkenalkan konsep 3 Screen, yaitu screen digital interactive TV, Internet, dan mobile phone. Ketiganya akan menguasai media global di masa mendatang. Pebisnisakan mengarahkan komunikasi pemasarannya melalui 3 Screen ini untuk menggapai dan berinteraksi dengan konsumen atau pelanggannya. Iklan di media konvensional sudah terlalu riuh (cluttered) dan sulit digunakan untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan konsumen. Iklan ini akan digunakan untuk media brand reinforcement.
Dari hasil riset Nielsen, komunitas dan teman merupakan lembaga yang paling dipercaya oleh konsumen saat ini dan di masa mendatang Individu di komunitas mengungkapkan pengalaman, level kepuasan, dan kebenaran suatu iklan atau penawaran melalui perbincangan di ruang-ruang bicara diinternet. Rating kualitatif ini sudah menjadi acuan bagi konsumen dalam membuat keputusan komersial maupun bisnis.
Di Amerika, dampak dari iklan department store yang merupakan gabungan televisi dan web video jauh lebih tinggi dibandingkan hanya dengan televisi saja. Hal ini terjadi dalam hal brand recall (54% lebih tinggi) maupun likeability (123% lebih tinggi).
Kepemilikan mobile phone di pelosok dunia terus meningkat dan menjadi media penting untuk multimedia messaging, texting, video, Internet, dan download.
Di antara ketiga media masa depan itu, mobile phone menjadi media paling penting di Indonesia masa mendatang. Hal ini disebabkan oleh karakter konsumen yang praktis, mobilitas tinggi, dan sebagai alat penampilan gaya hidup. TV digital akan menjadi alat interaksi konsumen di rumah dengan prinsipal, selain untuk menonton program televisi.
Potensi dan kemampuan menggabungkan informasi demografi keluarga yang sangat spesifik, gaya hidup anggota keluarga, database transaksi belanja, dan sebagainya menjadi kekuatan perubahan besar bagi pemasaran di masa mendatang.
Branding konsumen di masa depan bisa berupa nama, alias, nomor KTP, Blackberry Pin ID, Barcode, RFID, dan sebagainya, yang mewakili gaya hidup, perilaku, preferensi, opini, kesukaan, media sosial konsumen.
Iklan dan penawaran prinsipal akan menjadi semakin personal atau pribadi. Di rumah sebuah keluarga yang memiliki gaya hidup sehat, iklan dan penawaran produk lebih condong ke arah minuman dan makanan sehat, sedangkan di rumah keluarga biasa, iklan minuman keras dan makanan lezat berlemak masih akan mendominasi.

Program tontonan juga dibuat pribadi, sehingga tidak mengikuti program stasiun televisi yang sudah dijadwalkan secara rapi - mengarah ke Time Shifted TV. Singkatnya, 3 Screen akan menjadi media bagi pemasar untuk menggapai konsumennya “anytime dan anywhere"-wah, seperti slogan minuman cola di masa lalu.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 9.2. Jendela Ajaib Dunia




Di masa yang sebentar lagi akan tiba, sistem komputer juga akan menggabungkan semua bentuk bisnis dan hiburan elektronik untuk memberikan jendela ajaib kepada dunia dengan penampilan tiga dimensi. Saat ini kegiatan menyentuh, mencium, dan mencicipi belum dikuasai sepenuhnya secara digital oleh sebuah gadget, tetapi sebentar lagi kegiatan itu bisa Anda rasakan.
Melalui jendela ajaib ini, konsumen akan secara sederhana dapat menggunakan alat yang efektif dalam menguji dan memilih produk TV digital akan menjadi salah satu jendela ajaib bagi keluarga di masa depan. Peranti ini bisa berhubungan langsung dengan internet, dapat menghasilkan gambar tiga dimensi yang kini banyak dibuat untuk hiburan di bioskop, berinteraksi dengan konsumen melalui alat yang inovatif sehingga terasa bagai menyentuh, memutarbalikkan, mendapatkan informasi komposisi produk dan mengirimkan kepada teman.
Sistem layanan antar ke rumah (home delivery) akan tumbuh pesat. Di Korea saat ini, bisnis pengiriman secara personal (personal delivery) merupakan salah satu industri yang tumbuh pesat. Konsumen membayar layanan menyewa orang untuk berbelanja di supermarket, mengantre di restoran favorit, mengambil karcis bioskop untuk film nanti malam dan dikirim ke lokasi konsumen segera. Industri penjemputan atau pengambilan (pickup) juga mempunyai potensi untuk berkembang melalui jaringan distribusi ritel besar seperti minimarket. Kaum muda, kaya, dan minim waktu akan menggunakan layanan pesan barang lewat internet dan mengambilnya di minimarket terdekat.
Meski masa depan pola belanja yang praktis sudah di depan mata, tapi saat ini sebagian besar konsumen masih lebih suka berbelanja di toko sebagai bentuk relaksasi, hiburan, dan interaksi sosial. Untuk memenuhi harapan konsumen, peritel harus menciptakan suasana rekreasi di dalam toko mereka.

Jika di negara barat arti rekreasi adalah ke pantai, ke gunung, atau pusat hiburan dengan fasilitas publik yang baik, maka di Asia, terutama di Indonesia, arti rekreasi adalah belanja. Belanja merupakan terapi, pelepas lelah emosi, dan pembaharuan semangat, terutama bagi kaum wanita.
---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 9.1. Revolusi Belanja


Dalam dekade ke depan, personal computer (PC) akan menjadi murah. Hampir setiap rumah tangga kelas menengah akan memilikinya, bahkan mengarah ke setiap pribadi. PC akan semakin kecil, semakin ringan, powerful dengan layar yang dapat dilebarkan.
Gadget mobile akan menjadi alat populer untuk melihat kabar, harga saham, mencari jalan alternatif di kota, daftar belanja tambahan, dan sebagainya. Banyak transaksi yang mengikutsertakan pengetahuan atau informasi seperti investasi, perbankan, buku, musik, film, atau travel, akan dilakukan secara online.
Banyak pula alat rumah tangga, seperti lemari es, mesin cuci, air conditioner, kamera keamanan, atau sistem kelistrikan akan memiliki kemampuan komputer dan berjaringan satu sama lain. Setiap rumah tangga di masa depan masing-masing akan mempunyai jaringan sistem informasi dan dapat diakses dengan remote mobile computer atau gadget.
Dengan teknologi Radio Frequency ID (RFID), segala isi rumah yang telah disematkan tag RFID akan bisa dimonitor keberadaannya. Misalnya, isi lemari es - ada berapa kaleng soda, jumlah porsi daging yang masih ada, atau berapa kaleng sardine, botol selai kacang, dan seterusnya - bisa dipantau dan datanya bisa terus diperbarui (update) secara otomatis di dalam daftar belanja bulanan atau mingguan. Jadi, konsumen tak perlu repot menghitung isi kulkas, karena semuanya tercatat secara otomatis.
Aplikasi di gadget kemudian dapat mengecek harga dari item di daftar belanja ritel ke beberapa toko yang mempunyai situs yang lengkap dengan harga, agar dapat memanfaatkan promosi dan potongan harga guna menghemat keuangan. Gadget juga menyampaikan sinyal khusus berisi berita Midnight Sale suatu toko fashion favorit dan mencatat waktu Anda di Daily Calendar secara otomatis agar tidak lupa mampir.

Mencari suatu hadiah unik juga menjadi pekerjaan gadget, bukan Anda lagi. Anda hanya menugaskan mesin pencari (search engine) untuk menelusuri hadiah khusus bagi orang-orang spesial dengan variasi harga yang bisa Anda tentukan.Jika sudah ditemukan, gadget itu pula yang akan menampilkan tempat membelinya secara rinci.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 8.3. Experiential Retail




Jika Anda menggeluti bisnis yang menjual sebuah produk, maka Anda akan bertarung ketat dalam harga dan margin. Anda akan hidup dalam lumpur penghisap karena memang ke arah dalamlah mereka menarik Anda. Otak kiri telah meningkatkan kehebatan produktivitas dalam membuat produk. Produk akan selalu dibuat lebih cepat dan lebih murah.
Jika Anda ingin meningkatkan margin lebih tinggi, pakailah otak kanan, yaitu kreativitas. Di sanalah yang membuat harga dan margin semakin tinggi. Yang dijual iPod bukanlah alat pelantun lagu, tapi sebuah alat yang menawarkan pengalaman baru dalam produk itu. Penggunaan indra sentuh dalam mencari lagu, kreativitas dalam mencari lagu, kemudahan mengunduh di mana pun Anda berada, menonton video musik, adalah sederet pengalaman yang ditawarkan iPod bagi penggunanya.
American Girls Dream tidak menjual boneka kepada anak perempuan Amerika. Mereka menjual mimpi. Setiap anak perempuan bisa membayar tiket dan mendapat sebuah boneka pilihannya, menginap semalam, bermain teater, makan, berbincang dari malam hingga pagi dengan kenalan di sana. Pengalaman itu yang dibeli, melekat di hati anak perempuan Amerika seumur hidup.
Pengalaman merupakan faktor pembeda dengan kompetitor dan memberikan positioning yang lebih jelas kepada pelanggan atau konsumen. Diperlukan desain,inspirasi, dan ide kreatif untuk menciptakan pengalaman yang berbeda dan kuat. Pastikan Anda didukung oleh tim yang kreatif dan mampu merealisasikan ide yang kadang-kadang di luar akal biasa.
Tanpa kemampuan mengungkap pengalaman, tidak ada cerita yang bisa dibagi kepada kolega atau teman. Tak akan ada pula word of mouth untuk bisnis Anda. Peritel harus membuat belanja di tokonya menjadi suatu petualangan, tidak hanya rutinitas. Siapkan desain toko, ragam produk, proses belanja, staf program promosi, dan sebagainya menjadi suatu tur mengesankan, yang memberikan kejutan dan kesan yang menyentuh hati.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 8.2. Membangun Brand Equity
Merek ibarat bayi yang setelah lahir harus terus diberi makan agar hidup dan sehat. Banyak merek yang setelah lahir, hidupnya bagai anak yatim, tidak pernah dirawat dengan baik, tetapi diharapkan bisa memberikan keuntungan. Merek perlu dibangun dan dijaga kesehatannya secara terus-menerus sehingga tercipta hubungan emosional dengan konsumen
Kenapa harus emosional? Karena manusia diberi kekuatan oleh emosi bukan oleh nalar. Menurut neurolog Donald Calne: “Perbedaan utama antara emosi dan nalar adalah bahwa emosi membawa Anda kepada aksi, sedangkan nalar membawa Anda kepada konklusi"
Menurut Maurice Levy, Chairman of Saatchi & Saatchi, “Sebagian besar populasi mengkonsumsi dan berbelanja dengan pikiran dan hati mereka, atau emosi mereka. Mereka mencari nalar rasional: apa yang bisa diberikan oleh produk dan mengapa produk itu menjadi pilihan superior. Mereka membuat keputusan emosional: saya suka produk itu; saya lebih memilih itu; saya merasa puas dengan produk itu."
Merek ritel juga harus mempunyai arahan yang sama, yaitu emotional branding, karena kita menginginkan dan mendambakan loyalitas konsumen. Ketika loyalitas melampaui nalar, panah itu perlu menancap tepat di hati. Merekritel yang emosional mengunci pelanggan melalui beberapa pintu:
  1. Mistery : cerita memikat, mimpi, inspirasi, masa lalu-sekarang masa depan
  2. Sensuality : suara, pandangan, bau, sentuhan, rasa
  3. Intimasi : komitmen, empati, hasrat
Sampaikan cerita Anda tentang bagaimana perusahaan ritel Anda dibangun dari bawah, nilai-nilai tinggi yang dianut organisasi Anda, atau perhelatan yang sudah dilalui. Cerita indah tidak pernah bosan untuk didengar.
Berbagilah mimpi dengan pelanggan Anda dan biarkan Anda dan biarkan mereka ikut serta mereka ikut serta merealisasikannya. Yang paling penting, merealisasikannya. setiap orang dewasa bisa melakukan sesuatu untuk anaknya, seorang pemimpin bisa melakukan sesuatu untuk pengikutnya, dan yang bisa dilakukan peritel untuk pelanggannya adalah memberikan inspirasi.
Tifanny Co. selalu memberikan inspirasi yang terus menebalkan loyalitas. Brand yang sehat dan emosional akan selalu membangun word of mouth, iklan yang paling efektif dan paling terpercaya. Brand juga menjauhkan Anda dari komoditas

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 8.1. Manajemen Kategori

Jika dunia manufaktur produk mempunyai pengetahuan manajemen brand, maka dunia ritel modern mempunyai manajemen kategori. Manufaktur selalu berbicara tentang kinerja merek produk mereka dan peritel selalu berbicara tentang kinerja toko, sehingga terdapat miskomunikasi di antara dua organisasi ini
Untuk berbicara brand, peritel mengelola ribuan brand sehingga terlalu mendetail, sedangkan manufaktur tidak terlalu peduli dengan kinerja toko yang terlalu luas. Maka dicarilah jalan tengah, yaitu berbicara tentang kategori. Jadi, manajemen kategori menjadi bahasa penengah (common language) dan level di mana mereka bisa berkomunikasi secara maksimal. Kategori di sini adalah kategori produk, yaitu deterjen, minyak goreng, sampo, dan lain-lain.
Kategori kini harus dikelola bagaikan sebuah unit bisnis, yakni harus tumbuh secepat di pasar (market place) atau bahkan lebih cepat untuk mendapatkan pangsa pasar (market share).
Setiap kategori mempunyai pengelolanya, yaitu category manager, yang harus membuat rencana kerja kategori (category business plan). Mengelola kategori sama dengan mengelola sebuah unit usaha. Setiap kuartal, setiap kategori harus menunjukkan kinerja untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan dalam category business plan.
Setiap kategori mempunyai Key Performance Index (KPI), misalnya angka penjualan, profit, market share, GM ROII, inventory, turn over, dan lain-lain. Dengan demikian, di dalam ruang pembelian (buying room), kedua organisasi tidak membicarakan brand A dan omzet toko di lokasi Z, tetapi membicarakan bagaimana membangun suatu assortment mix, margin mix, proporsi segmen produk yang menangkap tren konsumen, promosi, dan pemajangan yang optimal.
Di sini diperlukan sifat entrepreneurseorang category manager yang bermodalkan pengetahuan pasar, tren konsumen, perilaku belanja konsumen di kategori tersebut, strategi lebar dan dalamnya (width dan depth) suatu kategori, kreativitas promosi dan pemajangan, dan lain-lain.
Category manager bertindak seperti seorang chefyang harus bisa menghasilkan suatu masakan, misalnya gado-gado, dengan rasa istimewa, berisikan ragam bahan yang berbeda, penampilan berbeda, dan ukuran saji yang berbeda. Jadi, yang harus bisa disajikan adalah total pengalaman makan dan rasa yang berbeda dibandingkan dengan seribu jenis gado-gado yang ada di pasar (market place). Keterampilan yang dibutuhkan tidak seperti dulu, yaitu procurement, melainkan menjadi pebisnis dengan keahlian yang lengkap, pebisnis yang ulung di zaman informasi yang serba cepat berubah dan hyper competitive.
Jadi, bagan komunikasi antara manufaktur dengan peritel sudah berubah dari bagan butterfly ke diamond. Peritel lama mengutus buyer untuk berkomunikasi dengan bantuan manufaktur, yaitu seorang tenaga penjual (sales person). Tetapi dua utusan ini tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk membicarakan sinergi dalam strategi bisnis, strategi pemasaran, strategi penjualan, strategi logistik, dan strategi teknologi informasi.

Maka semua pimpinan manajemen yang memiliki kompetensi dalam bidangnya harus bertatap muka (interface) dan membangun sinergi. Saat ini keduanya harus membangun keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang menguntungkan kedua belah pihak. Langkah-langkahnya antara lain adalah menyelaraskan peritel demi mendukung citra merek promosi manufaktur dengan promosi yang bersifat eksklusif peritel, menganalisis kinerja melalui per - (confidential) dan membuat poin langkah, meningkatkan level pelayanan (service level) melalui penggunaan teknologi informasi yang berhubungan secara bini k bisnis (B2B), menciptakan pengalaman belanja yang unik melalui desain kreatif dari kedua belah pihak, dan lain-lain.

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Buku Retail Rules > 7.4. Trading vs Marketing

Suka atau tidak suka, industri ritel telah bergeser dari perdagangan barang (trading) ke arah pemasaran konsumen (marketing). Dahulu peritel dapat menikmati bisnis ritel secara fantastis hanya dengan kemampuan mendapatkan produk secara rutin
dengan meletakkan produk di rak toko, tempat konsumen akan berlomba untuk menemukannya.   
Kini dengan berlimpahnya produk di pasar, kemampuan mendapatkan stok dan meletakkan produk di lokasi strategis di dalam toko tidak cukup untuk meraih pangsa pasar di industri ritel. Berbelanja kini bukan hanya rutinitas untuk mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari. Belanja kini juga menuntut pemenuhan kepuasan emosi konsumen.
Berjalan membawa produk dengan bungkusan kantong plastik bertuliskan merek ritel yang aspiratif, menciptakan terjadinya perbedaan emosi konsumen. Merek peritel telah menjadi simbol status bagi konsumen, yang mewakili nilai dan gaya hidupnya. Mereka juga menjadi simbol bagian dari komunitas yang dibentuk, atau dengan kata lain, simbol aktualisasi diri pelanggan.
Nilai yang diciptakan produsen, seperti melindungi alam dari The Body Shop, hidup alami ala Kampung Jamu Sari Ayu, hidup dengan makan sehat dan seimbang dari The Ranch Market, dan sebagainya, merupakan nilai dan aktualisasi diri pelanggan.
Masih sedikit peritel di Indonesia yang memberikan perhatian terhadap aspek pemasaran, sehingga hal ini menjadi tantangan yang sangat menarik (competitive advantage) bagi pelakunya. Kerancuan pemahaman antara promosi dan pemasaran telah membuat arti pemasaran menjadi kecil dan semakin tidak diindahkan.
Bagi peritel yang sudah paham, pemasaran kini sudah menjadi alat besar dan penting dalam organisasi. Pemasaranlah yang menciptakan persepsi “Termurah” atau “Terheboh", program “Loyalitas", citra “Saya banget", kesehatan “Brand", atau yang sekarang juga sedang tren, peningkatan “Brand Equity'. Pemasaran yang membangun kapling dibenak konsumen untuk merek peritel, sehingga tidak hanya Performance Scorecard (marketshare) yang dibutuhkan peritel, tetapi juga Marketing - Scorecard seperti mind share, mouth share, dan harga terbaik. Sekarang konsumen sudah terbiasa untuk berpindah-pindah toko demi mendapatkan harga termurah. Indikasi ini bisa dilihat dari kegemaran konsumen mengoleksi kartu diskon dari banyak peritel.
Harga adalah logika (angka) dan ada di benak konsumen, sedangkan loyalitas terletak di dalam hati. Jadi, perang harga untuk meraih loyalitas salah sasaran. Manusia menjadi setia karena ada sentuhan dan ikatan emosi. Strategi emosi dibuat melalui pemasaran yang mempengaruhi pikiran (positioning), mulut (word of mouth), dan hati konsumen (brand aspiration).
Alfamart merebut pikiran, mulut, dan hati pelanggan tidak dengan produk susu atau gula murah, tetapi dengan program Ronda Sore, Women Power, Temu Selebriti, dan lain-lain, sehingga menjadikan Alfamart sebagai brandritel nomor satu di Indonesia 2007 (Nielsen Brand Equity). Pemasaran juga mempelajari perilaku konsumen yang terus berubah dan cara berkomunikasi dengan konsumen. Jadi, bayangkanlah ritel tanpa pemasaran.

Buku Retail Rules > 7.3. The Battle for Consumer Mind vs Space

Merek produk telah lama berlomba-lomba mendapatkan tempat permanen di benak konsumen melalui iklan-iklan bernilai miliaran rupiah dan program-program pemasaran yang unik dan inovatif. Iklan terbukti ampuh dalam mempengaruhi konsumen tentang merek dan memberikan pengalaman unik melalui merek.
Tapi kini jumlah produk telah meningkat secara luar biasa. Beberapa produk terus berinovasi, meskipun sebagian besar lainnya meniru. Hal ini menyebabkan terjadinya banyak pilihan produk yang pada akhirnya dirasakan konsumen sebagai sebuah kerumitan.
Memilih sikat gigi atau cologne di supermarket saat ini menjadi tugas berat dan memusingkan. Raksikat gigi paling sedikit berukuran lima meter, berisisikat gigi dengan beragam fitur, harga, dan merek. Iklan semakin cluttered. Konsumen dihadapkan dengan rata-rata 1.600 iklan setiap hari. Bagi produsen, perang iklan seperti itu membuat mereka kesulitan untuk meraih perhatian konsumen, apalagi meraih tempat di benak konsumen. Asumsi ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa konsumen kerap berubah pikiran saat memilih produk atau merek di dalam toko swalayan. Karena itu, detik terakhir di dalam toko adalah faktor kritis dalam dunia bisnis ritel saat ini.
Untuk mendapatkan perhatian dari konsumen, manufaktur lalu berlombalomba mendapatkan ruang di rak, untuk mengingatkan kembali akan aspirasi merek yang telah ditayangkan di media. Mereka berharap produk mereka masuk ke dalam troli. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, akibat desakan dan pengaruh manufaktur, para peritel menyediakan ruang khusus untuk memajang produk atau iklan milik manufaktur, tentu saja dengan imbalan rupiah dalam jumlah besar.
Imbalan itulah yang membuat para peritel tergiur dan terbuai, sehingga muncul pandangan seperti ini; untuk apa susah-susah berjualan ke konsumen, kalau dari kantong manufaktur saja hasilnya sudah lumayan?
Penyewaan gondola untuk memajang produk dan iklan milik manufaktur kemudian menjadi fenomena di banyak supermarket di dunia, termasuk di Indonesia. Kompetisi antarmanufaktur membuat harga sewa gondola melambung
tinggi, sehingga munculungkapan terkenal "Real estate termahal di dunia bukan di New York atau Tokyo, melainkan di supermarket”
Di akhir 1990-an, ketika kompetisi ritel mulai meningkat, peritel mulai berpikir ulang karena uang yang diterima tidakseimbang dengan loyalitas konsumen yang semakin menurun. Peritel kemudian diberi peringatan agar lebih berhati-hati dalam menerima tawaran menggiurkan dari manufaktur. Dengan kata lain, tidak sembarangan menyewakangondola, terutama gondola utama. Sebab, selama peritel menyewakan gondola, maka gondola itu secara tidak langsung milik manufaktur penyewa. Manufaktur dapat memajang produk apapun miliknya, termasuk produk yang tidak laku atau tidak dicari konsumen. Akibatnya, toko peritel dipenuhi produk yang tidak relevan dengan konsumen.
Sebaliknya, produk yang laku atau dicari konsumen selalu kekurangan tempat dan sering out of stock. Penjualan peritel menjadi terganggu. Dalam banyak kasus, penjualan untuk kategori produk tersebut menurun, tetapi peritel masih bingung untuk memutuskan apakah penyewaan gondola harus dihentikan, karena pendapatan dari sewa gondola jumlahnya lumayan. Peritel besar di dunia mulai mengubah kebijakan dalam sewa-menyewa gondola. Gondola reguler harus dalam kontrol peritel. Tempatitu mutlak untuk konsumen. Kebijakan ini mengembalikan pola bisnis kepola semula, yaitu “berjualan ke konsumen, bukan ke manufaktur”
Tren ini juga diikuti oleh peritel Indonesia. Yang masih disewakan adalah gondola end, special display, atau area lain. Dengan area yang semakin sempit dan pertarungan mendapatkan ruang di supermarket yang semakin sulit, maka harga sewanya juga semakin melambung. Listing fee pun mulai diterapkan di Indonesia sejak awal tahun 1990, meniru manajemen ritel modern di negara barat. Karena jumlah produk yang ingin masuk ke supermaket semakin banyak, maka diperlukan langkah untuk melakukan penyaringan. Adapun peran listing fee dalam dunia ritel adalah:
  • Membuat pemasok berkomitmen dalam memasok barang
  • Mengganti ongkos administrasi dalam identifikasi produk untuk reorder dan sebagainya
  • Memastikan produk didistribusikan secara terkontrol dan disebarkan di cluster toko yang dikehendaki dalam rantai distribusi
  • Mencegah terjadinya persekongkolan antara pembeli dan pemasok
Listing fee satu peritel secara umum berlainan satu sama lain, demikian juga antara satu kategori produk dengan kategori lainnya. Hal ini ditentukan faktor:

  • Jumlah toko dalam rantai tersebut atau jumlah toko yang menjual produk tersebut
  • Seberapa kuat merek peritel tersebut memberikan dampak pada merek produk atau seberapa unik produk tersebut untuk peritel
  • Seberapa besar dukungan promosi dari pemasok untuk peritel
  • Reputasi dari pemasok untuk produk baru - Jumlah rata-rata pengunjung toko peritel tersebut
  • Produktivitas per meter persegi dari toko peritel
  • Biaya pemasaran peritel dalam mengembangkan merek peritel

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Kontak Kami

Silakan kunjungi halaman Kontak Atau kirimkan permintaan di formulir ini, Marketing kami akan segera menghubungi anda. Mohon sertakan URL produk yang ditanyakan di kolom pesan. [contact/]
Diberdayakan oleh Blogger.